Ngademin tapi ngak bikin adem!

Kelakuan Ngademin, 55 thn, emang nggak ‘ngademin’. Tenane.
Umi, 19 thn, seorang gadis yg merupakan anak tirinya memiliki paras nan ayu, body gitar dan betis bak bunting padi, seharusnya dirawat baik-baik dari ‘pemangsa liar’ yg banyak berkeliaran bebas di jagad raya ini.
Tapi ternyata ‘serigala itu’ ada didalam kandang sendiri.

Umi yang baru beranjak dewasa, ibarat buah durian yang aroma harumnya lari kemana-mana,
hingga berduyun-duyun para pemuda plamboyan datang mengapelinya.

Jikalau malam tiba, maka ramailah para ‘tamu’ yang ‘beramah-tamah’ dengan segala asessoriesnya.
Dari motor 4 tak keluaran terbaru hingga motor ‘tak bergigi’ akibat korekan yg carut-marut karena pabriknya pembuat spare part-nya udah nggak bikin lagi.

Ngademin yg kurang nyaman akibat rame-nya para ‘penziarah’ ditambah lagi, tuh motor nggak dipungut retribusi parkir karena menyewa lahan parkirnya, iapun menasehati keras para pemuda tsb untuk tdk bertamu terlalu lama.

Dengan mengajarkan etika ketimuran kepada mereka, para pemuda pun menjadi segan dan nggak enak hati. Ditambah lagi Ngademin suka nimbrung di kancah gaul dengan memainkan burung perkutut peliharaanya, klop sudah rasa ‘eneq’ para tamu.

Berguguran satu-persatu mereka rontok dari rutinitas ‘besuk’ malam berikutnya, hingga tak seorangpun yg datang menemui Umi.
Mereka berpikir emang cuma Umi doank perempuan cantik di semarang…yang cantik kaya’ Luna Maya juga ‘ombyokan’ di simpang lima!.

Umi pun kesepian.
Bahkan penziarah yang jelek kaya’ Budi Anduk di AnTeVe pun nggak keliatan batang idungnya.
Ngademin yang sejak lama ‘mencermati’ keadaan ini segera menghiburnya.

Bak orang tua yang ‘mumpungi, Ngademin segera unjuk gigi dan unjuk celana.
Dengan ancaman dan rayuan, Ngademin dipaksa untuk melayani kebutuhan arus bawahnya.
Umipun tak berdaya dan terpaksa berbuka paha.
Ngademin pun berhasil menguasai tubuhnya bahkan rasanya lebih enak dan mempur dari ibunya. Ngademin jadi ketagihan.
Berulang kali ia lakukan tanpa diketahui istri keduanya.

Hati Umi yang hancur tak kuasa menahan deritanya hingga ketika ada kesempatan bertemu dengan pamannya, ia pun memberitahu kelakuan sang ayah tiri.

Sang paman yg mendengar berita ini ‘bak disambar gledek’. Ia pun marah dan segera melapor ke Polresta Semarang.

Dalam pengakuannya sang ayah tiri mengatakan, ‘saya tidak memperkosanya koq, buktinya ia merem-melek!’, ujarnya kalem.

Gundulmu kuih…merem-melek…min…min

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: